“ANGKRINGAN” KAJIAN BEHAVIOUR SETTING ANGKRINGAN Di Wilayah Kelurahan Condongcatur Yogyakarta

ANGKRINGAN
KAJIAN BEHAVIOUR SETTING ANGKRINGAN
Di Wilayah Kelurahan Condongcatur Yogyakarta

Wahyu Buana Putra, Prof. Ir. T. Yoyok Wahyu Subroto, M.Eng, Ph.D.; Diananta Pramitasari, ST., M.Eng., Ph.D.

Angkringan dalam konteksnya sebagai ruang interaksi sosial dapat dikatakan sebuah lingkungan binaan. Bervariasinya pembeli yang datang tanpa membedakan strata sosial, suku, agama dan ras menjadi daya tarik tersendiri. Harga yang murah, tempat sederhana namun tetap nyaman untuk bersantai dan ngobrol, membuat Angkringan semakin banyak tersebar di wilayah kota Yogyakarta khususnya Kelurahan Condongcatur, Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini membahas Angkringan sebagai lingkungan binaan, melalui pendekatan behavior setting, yang menekankan pada hubungan interaksi antara manusia dan lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik standing pattern of behavior, circumjacent milieu dan bagaimana synomorphy yang membentuk behavior setting Angkringan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan rasionalistik. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, pengukuran, person centered map dan kuisioner. Pengukuran dan observasi digunakan untuk mengetahui keseluruhan fenomena perilaku lingkungan beserta dengan konteks data yang terdapat di dalam lokus penelitian. Person centered map digunakan untuk melihat karakterstik standing pattern of behavior dan circumjacent milieu yang digunakan, berdasarkan periode waktu tertentu. Sedangkan metode kuisioner digunakan untuk mengetahui pengalaman yang dirasakan pembeli saat berada di Angkringan dan mengungkapkan faktor-faktor yang paling dominan dalam hubungan penjual dan pembeli (manusia) dan Angkringan (lingkungan), yang membuat hubungan interaksi tersebut terus bertahan dan berlanjut setiap waktu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat 6 (enam) karakteristik pola perilaku pelanggan di Angkringan, setiap pola perilaku terdiri dari 3 (tiga) periode aktivitas, yaitu: periode aktivitas awal, puncak dan akhir. Setiap karakteristik pola perilaku yang dihasilkan oleh pelanggan tergantung tujuan dan tingkat kesesuaiannya dengan seting Angkringan. Selain itu perbedaan periode waktu operasi Angkringan tidak mempengaruhi pola perilaku pelanggan di dalam Angkringan. Terdapat 3 (tiga) karakteristik milieu, yaitu: milieu zona parkir, milieu zona inti dan milieu zona lesehan. Selanjutnya terdapat 4 (empat) atribut pengalaman ruang sebagai faktor terbentuknya synomorphy di Angkringan saat pagi dan siang hari, yaitu: (a) Legibility; (b) adaptability; (c) sensory stimulation; (d) activity dan 5 (lima) atribut pengalaman ruang sebagai faktor terbentuknya synomorphy di Angkringan pada malam hari, yaitu (a) legibility; (b) adaptability; (c) sensory stimulation; (d) sosiality; (e) activity. Kata kunci : Behaviour setting, Angkringan, Kelurahan Condongcatur.

Angkringan in its context as a space of social interaction as a built environment. Various buyers came to the Angkringan without distinction of social strata, ethnicity, religion, and race to become a special attraction. Low price, simple place but still comfortable to relax and chitchat, make Angkringan more spread throughout Yogyakarta city, particularly the Urban Village Condongcatur, Sleman, Yogyakarta. This study discusses Angkringan as the built environment, through the approach of behavior setting, emphasizes the interaction between humans and the environment. The purpose of this study to investigate the characteristics of standing pattern of behavior, circumjacent milieu, and how synomorphy forms the behavior setting Angkringan. The research method is used a qualitative rationalistic approach. Data collecting technique using observation, measurement, person-centered map, and questionnaire. Measurements and observations are used to determine a whole phenomenon of environmental behavior along with the data context contained within the locus of research. The person-centered map is used to view the characteristics of a standing pattern of behavior and circumjacent milieu which is used, based on a specific time period. Whereas the questionnaire method is used to determine the perceived buyer experience while in Angkringan and understanding factors that the most dominant in relationships between vending and buyers (human) and Angkringan (environment), makes the interaction relationship persisted and continued in every time. The conclusion from this study is there is 6 (six) characteristic of customer behaviour patterns in Angkringan, each of customer behaviour patterns consist of 3 (three) activity periods: beginning, peak and the end of the period. Each characteristic of behavior patterns generated by customers, depending on objectives and level of conformity with Angkringan setting. In addition, different time periods operation of Angkringan did not affect customer behavior patterns in Angkringan. There are 3 (three) milieu characteristics: milieu of parking zone, milieu of primary zone, and milieu of â lesehan zone. Furthermore, there are 4 (four) attributes the experience of space as a factor of formation synomorphy in Angkringan during morning and afternoon, is : (a) Legibility; (b) adaptability; (c) sensory stimulation; (d) activity dan 5 (five) attribute space experience as a factor in the formation synomorphy Angkringan at night, i.e.: (a) legibility; (b) adaptability; (c) sensory stimulation; (d) sociality; (e) activity.

Kata Kunci : Behaviour setting, Angkringan, Kelurahan Condongcatur; Behaviour setting, Angkringan, Condongcatur Urban Village

Source : http://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/81347#filepdf

Tiga Macam Rumah

Tiga macam rumah, diantaranya :
Pertama, rumah milik penguasa. Di dalamnya terdapat harta benda, perbendaharaan, dan perhiasan.

Kedua, rumah milik hamba. Di dalamnya terdapat harta benda, perbendaharaan, dan perhiasan milik si hamba, yang tentunya tidak sama dengan milik raja.

Ketiga, rumah kosong melompong yang tak ada isinya.
Lalu, datanglah pencuri yang ingin mencuri di salah satu rumah.
Kira-kira, rumah manakah yang akan dimasukinya?

Jika engkau katakan rumah kosong, maka mustahil, karena rumah kosong tidak berisi harta benda apa pun untuk dicuri. Oleh karena itu, pernah dikatakan kepada Ibnu Abbas, tentang orang-orang Yahudi yang mengklaim bahwa mereka tidak diusik perasaan was-was dalam ibadah mereka.
Maka, Ibnu Abbas mengatakan, “Apa yang bisa diperbuat oleh setan terhadap rumah yang rusak?”

Jika engkau katakan rumah milik raja, maka hal itu sepertinya mustahil dan tak mungkin, karena rumah raja dijaga oleh para penjaga dan serdadu, sehingga pencuri tidak bisa mendekatinya. Bagaimana tidak, penjaganya adalah raja itu sendiri!

Bagaimana mungkin si pencuri bisa mendekatinya, sementara di sekelilingnya bertebaran para penjaga dan serdadu.

Tidak tersisa, kecuali rumah milik hamba. Itulah rumah yang paling rentan didatangi oleh pencuri.

Orang bijak tentu dapat melihat permisalan ini dengan cermat. Mengibaratkannya dengan hati manusia, karena keadaan hati mirip dengan kondisi ketiga rumah tersebut.

Hati yang kosong dari seluruh kebaikan, itulah hati orang kafir dan munafik, dan itulah rumah setan. Setan telah menjaganya untuk dirinya dan ia menempatinya. Setan menjadikannya sebagai tempat tinggal dan tempat menetap. Lantas, apa yang harus ia curi darinya? Di dalamnya tersimpan harta benda, perbendaharaan, dan was-was setan.

Adapun hati yang dipenuhi dengan penghormatan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, pengagungan, cinta, muraqabah (pendekatan diri pada Allah -ed), dan perasaan malu terhadap-Nya. Setan manakah yang berani mendekati hati seperti ini? Jika ia ingin mencuri sesuatu darinya, apa yang harus ia curi?

Hati yang berisi tauhid kepada Allah, ma’rifah, mahabbah, iman, serta pembenaran terhadap janji-Nya. Selain itu, juga berisi seruan hawa nafsu, akhlak tercela, serta dorongan kepada syahwat dan tabiat buruk.

Hati yang berisi dua perkara ini, kadangkala condong kepada seruan iman, ma’rifah, mahabbah kepada Allah, dan kehendak Allah semata. Namun, kadang kala hati jenis ini condong kepada ajakan setan, hawa nafsu, dan tabiat buruk.

Hati inilah yang diminati oleh setan. Setan berusaha untuk menempati dan menguasainya, dan Allah memberikan pertolongan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

وَمَا النَّصْرُ إِلاَّ مِنْ عِنْدِ اللهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ

“Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Qs. Ali Imran: 126)

Setan tidak akan bisa menguasainya, kecuali dengan senjata yang dimilikinya. Setan berusaha masuk ke dalamnya dan ia mendapati bahwa senjatanya berada di dalamnya. Lalu, ia mengambil senjata itu dan memberikan perlawanan. Sesungguhnya, senjata-senjata setan itu adalah syahwat, syubhat, khayalan, dan angan-angan kosong.

Semua itu ada dalam hati. Setan masuk ke dalamnya dan menemukan senjata itu di dalamnya. Maka, setan pun merampas senjata tersebut dan memberikan penyerangan terhadap hati. Apabila hamba yang memiliki hati tersebut punya persiapan yang matang, berupa iman untuk menghadapi serangan setan, bahkan persiapan yang lebih, maka ia dapat mengatasi setan tersebut.

Wa la haula wa la quwwata illa billah (tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah).

Lalu bagaimanakah rumah kita?

Rumah kita adalah rumah al-Qur’an yang di dalamnya terbaca ayat-ayat Allah agar terpahami dengan baik titah-titah Rabb hingga menjadi pedoman untuk mengukuhkan iman di musim kemarau yang menggersangkan mata air takwa.

Rumah kita adalah rumah al-Qur’an yang ayat-ayatnya terlantukan oleh para penghuninya agar qalbu tersirami dengan Kalam Rabbina bak musim hujan yang menyirami pohon-pohon hingga ia menyemikan bunga-bunga iman.

Rumah kita adalah madrasah mini yang didalamnya dibacakan hadits-hadits yang merupakan konsep hidup sang nabi shllallahu ‘alaihi wasallam hingga para penghuninya memahami dengan baik bahwa sang nabi adalah teladan dalam segala lini kehidupan ini.

Tak ada teladan lain selain keteladan yang pernah diperagakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalllam. Tak ada sosok lain yang lebih mengagumkan dan layak dikagumi selian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalllam. Tak ada kisah lebih heroik yang pernah terkisahkan di muka bumi sepanjang masa dibandingkan kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalllam.

Pustaka :
Pesan-Pesan Pemikat Cinta, Menata Hati Menyemai Cinta Bersama Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, Manshur bin Abdul Aziz al-Ujayyan, Daar An-Naba`, Maret 2009.
Artikel www.yufidia.com
www.remajaislam.com